Kenapa Laut Lepas Jarang Jadi Latar Film Indonesia
Kita tinggal di negara kepulauan yang garis pantainya panjang sekali. Tapi kalau bicara film, laut kita lebih sering muncul sebagai pemandangan, bukan sebagai tempat kerja. Layar lebar Indonesia punya banyak pantai untuk adegan romantis dan banyak perahu untuk adegan perpisahan. Yang jarang: kamera yang benar-benar masuk ke dapur kapal, ke geladak, ke kamar awak yang sempit dan berisi empat orang.
Padahal justru di situ ada cerita. Ada orang Indonesia yang bekerja di kapal pesiar asing, meninggalkan keluarga berbulan-bulan, menandatangani kontrak yang masa berlakunya lebih panjang dari satu tahun ajaran anaknya. Ada juga yang bekerja di kapal ikan, di jermal, di platform lepas pantai. Semua itu Indonesia banget. Semua itu hampir tidak ada di bioskop kita.
Alasannya sebagian praktis. Syuting di atas air itu mahal, izinnya berlapis, asuransinya rumit, dan cuaca bisa membatalkan jadwal produksi dalam sekejap. Tapi alasan praktis biasanya cuma menutupi alasan yang lebih malas: cerita pekerja tidak dianggap menjual.
Jermal dan Anak-Anak yang Bekerja di Atas Air
Salah satu film yang paling dekat menyentuh dunia ini adalah Jermal, film 2008 garapan Ravi Bharwani. Ceritanya soal seorang anak yang pergi ke jermal — bangunan kayu di tengah laut tempat orang menangkap ikan — untuk mencari ayahnya. Di sana ia bukan cuma menemukan bapaknya, tapi juga aturan kerja yang keras, orang dewasa yang lelah, dan sistem yang tidak punya tempat untuk anak-anak.
Jermal bukan film yang manis, dan justru itu kekuatannya. Ia menunjukkan laut sebagai tempat orang mencari nafkah dengan risiko tinggi, bukan sebagai latar liburan. Kalau kamu ingin melihat bagaimana pekerjaan di atas air bisa difilmkan tanpa dibungkus drama percintaan, ini titik awalnya.
Pekerja Migran di Layar, dari Hong Kong sampai Kapal
Untuk sisi pekerja migrannya, ada Minggu Pagi di Victoria Park (2010), film yang menyorot kehidupan tenaga kerja Indonesia di Hong Kong. Bukan di laut, memang. Tapi tema yang diangkat — upah, jarak dari keluarga, harga diri, dan bagaimana orang di kampung membayangkan hidup mereka — persis tema yang akan muncul kalau kapal pesiar difilmkan dengan jujur.
Di kapal pesiar, pekerja migran bukan sekadar figuran cerita. Merekalah yang menyiapkan makanan, merapikan kabin, menghibur tamu, dan berdiri berjam-jam di dek. Kontrak kerja mereka terikat, rotasi liburnya panjang, dan mereka sering jadi orang yang paling tidak terlihat di kapal yang paling banyak difoto orang.
Kalau Kapal Pesiar Difilmkan, Ini yang Layak Disorot
Kapal pesiar punya struktur yang menarik untuk drama: ada dek atas dan dek bawah, ada tamu dan kru, ada dua dunia yang berbagi satu lambung kapal tapi hampir tidak pernah benar-benar bertemu. Beberapa hal yang bisa jadi bahan cerita tanpa perlu mengarang apa pun:
- Hirarki kerja yang ketat. Siapa boleh lewat pintu mana, siapa makan di ruang mana.
- Penghasilan yang bergantung pada tip, bukan pada gaji pokok.
- Rindu yang dijadwalkan — kapan boleh menelepon rumah, kapan sinyal hilang di tengah laut.
- Pulang ke kampung dengan cerita yang tidak selalu sama seperti kenyataan.
- Rekan kerja dari banyak negara, dengan bahasa Inggris seadanya dan ego yang penuh.
Ini bukan bahan cerita yang murah. Tidak perlu ada badai, tidak perlu ada bencana. Konfliknya sudah ada di jadwal shift dan di rekening yang harus dibagi ke keluarga di rumah.
Yang Masih Kosong, dan Kenapa Itu Penting
Jujur saja, sepengetahuan saya belum ada film panjang Indonesia yang benar-benar menjadikan kru kapal pesiar sebagai tokoh utama. Ini bukan berarti tidak ada yang pernah mencoba lewat film pendek, dokumenter, atau produksi daerah. Tapi di bioskop arus utama, ruang itu masih kosong.
Kosongnya bukan cuma soal jumlah. Yang hilang adalah cara kita melihat pekerja laut sebagai manusia dengan cerita, bukan sebagai angka pengiriman uang. Bertahun-tahun lamanya, pekerja migran kita lebih sering muncul di berita daripada di layar. Dan berita selalu punya sudut yang sempit: masalah, deportasi, atau prestasi. Jarang sekali ada ruang untuk hal-hal biasa — lelah, kangen, kesal pada atasan, bangga karena bisa mengirim uang.
Film punya kelebihan yang tidak dimiliki berita. Ia bisa membuat penonton duduk tenang selama dua jam di samping orang yang biasanya cuma lewat di layar televisi. Itu bukan hal kecil di negara yang sebagian pendapatannya datang dari orang-orang yang bekerja jauh dari rumah.
Menonton dengan Mata yang Lebih Terbuka
Kalau kamu tertarik pada tema ini, mulailah dari yang sudah ada. Tonton Jermal untuk melihat laut sebagai tempat kerja. Tonton Minggu Pagi di Victoria Park untuk memahami sisi pekerja migrannya. Setelah itu, perhatikan juga dokumenter dan film pendek, karena di situ biasanya cerita seperti ini lebih dulu muncul sebelum berani masuk bioskop.
Dan kalau ada sineas yang membaca ini: kapal pesiar memang lokasi syuting yang mahal, tapi ceritanya tidak perlu mahal. Satu kamar awak berisi empat orang, satu shift malam yang panjang, satu telepon yang tidak tersambung — itu sudah cukup untuk membuat penonton ikut merasa jauh dari rumah.