Jelajahi Film Mancanegara dan Indonesia
Iklan
Film Indo

Film Indonesia Jarang Menyorot Guru di Daerah 3T

Sokola Rimba, Denias, sampai Laskar Pelangi menunjukkan bahwa sekolah di wilayah terdepan dan terluar menyimpan cerita yang kuat. Tapi jumlahnya masih sedikit, dan artikel ini membahas kenapa begitu sekaligus apa yang membuat film semacam ini terasa jujur.

Film Indonesia Jarang Menyorot Guru di Daerah 3T

Kalau kita menyusun daftar film Indonesia bertema pendidikan, daftar itu akan cepat habis. Setelah beberapa judul, orang biasanya mulai menggaruk kepala. Padahal Indonesia punya ribuan sekolah di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal—yang dalam percakapan kebijakan disingkat 3T—dan hampir semuanya belum pernah jadi cerita utama di layar lebar.

Jarangnya bukan karena tidak ada kisah. Justru sebaliknya. Guru yang mengajar di kelas jauh, anak yang menyeberangi sungai demi sampai ke sekolah, atau ruang kelas yang dipakai bergiliran—semua itu bahan cerita yang kuat. Masalahnya ada di rantai lain: produksi, distribusi, dan selera pasar.

Judul yang Sudah Ada, dan Itu Pun Sedikit

Beberapa film memang pernah membawa sekolah pinggiran ke bioskop. Laskar Pelangi, yang diangkat dari novel Andrea Hirata, bercerita tentang sekolah Muhammadiyah di Belitung yang nyaris ditutup karena kekurangan murid. Kesederhanaannya terasa, meski Belitung hari ini bukan lagi gambaran wilayah tertinggal.

Iklan

Yang lebih dekat ke konteks 3T adalah Sokola Rimba garapan Riri Riza. Film ini mengikuti Butet Manurung yang mengajar anak-anak Orang Rimba di pedalaman Jambi. Bukan cuma soal membaca dan menulis, film ini memperlihatkan bagaimana pendidikan bertemu adat, hutan, dan kepentingan luar yang datang membawa gergaji.

Ada juga Denias, Senandung di Atas Awan, yang mengisahkan anak Papua yang harus menempuh perjalanan jauh untuk bisa sekolah. Lalu Jembatan Pensil, tentang anak-anak di Sulawesi Tenggara dan persahabatan mereka di tengah keterbatasan. Dan Tanah Surga... Katanya, yang menyorot kehidupan di kawasan perbatasan, termasuk sosok guru yang memilih bertahan.

Itu saja daftarnya, lebih kurang. Kalau kamu mencari film Indonesia tentang pendidikan di daerah 3T, kamu akan menemukan judul yang sama berulang kali. Bukan karena sineas kita malas, tapi karena cerita seperti ini punya lawan yang berat.

Kenapa Cerita Ini Sulit Sampai ke Bioskop

Alasan pertama soal uang, dan tidak ada gunanya berpura-pura sebaliknya. Mengambil gambar di pedalaman berarti mengangkut kru, peralatan, dan logistik ke lokasi yang aksesnya terbatas. Biayanya naik, sementara pemasukan belum tentu ikut naik.

Alasan kedua soal layar. Bioskop kita terkonsentrasi di kota-kota besar, dan penonton di sana punya banyak pilihan. Film bertema sosial sering dianggap berat, apalagi kalau tidak punya bintang besar atau genre yang jelas. Akibatnya, film semacam ini sering kalah sebelum sempat dilihat.

Alasan ketiga yang paling sering dilupakan: riset. Menulis tentang sekolah di wilayah terdepan butuh kehadiran, bukan asumsi. Kalau penulisnya tidak pernah duduk di kelas itu, hasilnya akan terasa dari dialognya—terlalu rapi, terlalu pintar, tidak seperti orang yang benar-benar lelah.

Tiga Hal yang Membuat Film Semacam Ini Terasa Nyata

Dari judul-judul yang ada, ada pola yang kelihatan. Film pendidikan 3T yang berhasil biasanya melakukan tiga hal ini.

  • Anak-anaknya jadi subjek, bukan bahan kasihan. Mereka punya keinginan, lelucon, dan kemarahan sendiri. Kamera tidak cuma memotret kemiskinan, tapi juga pilihan yang mereka ambil.
  • Konfliknya konkret. Jarak ke sekolah, biaya, guru yang pindah, izin dari orang tua—hal-hal kecil yang bisa dipahami penonton tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.
  • Tidak menjadikan pendatang sebagai satu-satunya penyelamat. Sokola Rimba, misalnya, menunjukkan bahwa mengajar di komunitas adat selalu ada negosiasi. Kepercayaan tidak datang di menit pertama.

Sebaliknya, film yang gagal biasanya sibuk mengejar haru. Adegan ditutup musik sedih, lalu muncul pesan moral di layar. Penonton merasa dibohongi, karena yang dilihat bukan kehidupan, melainkan poster kampanye.

Mengharukan Itu Mudah, Menghormati Itu Sulit

Ini soal sikap. Mengharukan penonton bisa dilakukan siapa saja dengan sedikit musik dan kamera lambat. Yang sulit adalah menghormati orang yang sedang diceritakan—memberi mereka ruang untuk terlihat biasa, bukan selalu jadi korban.

Guru di daerah 3T bukan pahlawan tanpa tanda jasa yang diam-diam menahan air mata setiap malam. Mereka juga manusia yang mengeluh soal sinyal, gaji, dan jarak. Kalau film berani menunjukkan sisi itu, ceritanya jadi jauh lebih kuat daripada sekadar deretan kalimat bijak.

Sayangnya, kerangka pikir seperti ini jarang muncul karena industry kita lebih sering menilai film dari seberapa cepat ia membuat penonton menangis. Padahal kekuatan sesungguhnya justru ada di hal-hal yang tidak dramatis: seorang anak yang mengulang membaca satu paragraf sampai benar, atau guru yang menyalin soal ujian dengan tangan.

Kalau Kamu Guru, Orang Tua, atau Cuma Penonton

Untuk guru yang mengajar di wilayah terpencil, film-film ini tidak perlu dibaca sebagai panduan mengajar. Anggap saja sebagai cermin yang memantulkan sebagian kecil dari apa yang kamu jalani setiap hari. Kadang melegakan, kadang bikin kesal karena tidak sesuai kenyataan—dua-duanya tidak masalah.

Untuk orang tua dan penonton biasa, langkah paling sederhana adalah menonton dan membicarakannya. Film bertema pendidikan jarang bertahan lama di bioskop, jadi kehadiran di minggu pertama berpengaruh besar. Kalau tidak sempat ke bioskop, banyak dari judul di atas kini bisa ditemukan di layanan streaming atau pemutaran komunitas.

Untuk yang ingin membuat film, satu hal saja: datang ke lokasinya. Bukan sehari untuk mengambil gambar, tapi cukup lama untuk tahu jam berapa anak-anak berangkat dan siapa yang menyusul mereka di jalan. Riset bukan biaya tambahan, tapi bagian dari cerita itu sendiri.

Yang Sebenarnya Kita Butuhkan Bukan Satu Film Besar

Kita tidak perlu satu film mahal yang mengklaim mewakili seluruh sekolah di daerah 3T. Yang dibutuhkan justru banyak cerita kecil dari tempat berbeda—Sumba, Kepulauan Aru, perbatasan Kalimantan, pedalaman Papua—karena masalahnya juga berbeda-beda. Ada yang kekurangan guru, ada yang gurunya cukup tapi aksesnya yang sulit, ada yang bangunannya bagus tapi tidak ada yang mau mengajar di sana.

Selama layar kita hanya menampilkan satu-dua wajah pendidikan pinggiran, kita akan terus menganggap persoalannya tunggal dan solusinya juga tunggal. Padahal tidak. Semakin banyak cerita yang ditonton, semakin jelas bagi penonton bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar gedung atau buku, melainkan orang yang mau bertahan.

Film Indonesia tentang pendidikan di daerah 3T memang belum banyak. Tapi bukan berarti mustahil. Yang perlu berubah pertama kali bukan peralatannya, melainkan kemauan untuk mendengarkan lebih lama sebelum mulai menulis.

Iklan

Artikel Lainnya