Punya sahabat yang beda agama itu biasa di Indonesia. Kamu mungkin punya teman yang tiap Lebaran mudik ke kampung, sementara kamu sendiri sibuk menyiapkan perayaanmu, dan pertemanan itu tetap jalan seperti biasa. Tapi coba cari film Indonesia yang menampilkan persahabatan semacam itu apa adanya, pilihannya langsung menyempit jadi segelintir judul.
Bukan karena sineas kita tidak peduli. Lebih karena tema ini mahal secara emosional. Sekali salah langkah, filmmu berubah jadi khotbah. Sekali salah langkah ke arah lain, filmmu jadi provokasi. Dua-duanya bikin penonton menjauh, dan dua-duanya juga bikin produser gugup.
Perbedaan agama sering cuma jadi latar, bukan cerita
Perhatikan pola yang berulang. Sebuah film punya dua tokoh sahabat, satu Muslim satu Kristen, atau satu Hindu satu Konghucu. Perbedaan itu disebut di awal, dipakai untuk membangun satu adegan canggung, lalu menghilang. Sisanya drama remaja biasa yang bisa terjadi pada siapa saja dari agama apa saja.
Itu tidak salah. Tapi jujur saja, agak mengecewakan. Kalau perbedaan agama hanya berfungsi sebagai penanda karakter, kenapa harus disebut sama sekali? Cerita yang sama bisa ditulis tanpa itu, dan hasilnya tidak akan banyak berubah. Artinya, elemen itu memang tidak sedang mengerjakan apa pun di dalam cerita.
Yang membuat sebuah film terasa sungguh-sungguh biasanya bukan adegan debat soal Tuhan. Justru detail kecil. Bagaimana dua sahabat berbagi makanan saat salah satunya berpuasa. Bagaimana mereka menghormati kebiasaan satu sama lain tanpa perlu dijelaskan. Bagaimana mereka bertengkar karena hal sepele yang ternyata menyinggung keyakinan, lalu diam beberapa hari, lalu kembali lagi seperti tidak terjadi apa-apa.
Beberapa judul yang layak kamu kejar
Kalau kamu ingin melihat bagaimana tema ini digarap dengan serius, ada beberapa film yang bisa jadi titik mulai. Daftarnya tidak panjang, dan itu sendiri sudah bercerita banyak tentang seberapa langka cerita semacam ini di layar lebar kita.
Cahaya dari Timur: Beta Maluku
Film ini berlatar konflik antarwarga di Maluku dan memakai sepak bola sebagai jalan keluar. Yang menarik, persahabatan lintas agama di sini tidak dibangun lewat dialog panjang. Ia muncul dari hal yang sangat sederhana: anak-anak yang tetap ingin bermain bersama meski kampung mereka terbelah. Ini salah satu penggambaran paling tidak menggurui soal hidup berdampingan yang pernah dibuat film Indonesia.
Tanda Tanya
Hanung Bramantyo merangkai beberapa keluarga dengan latar keyakinan berbeda di satu lingkungan, lalu membiarkan mereka bergesekan tanpa memberi jawaban yang rapi. Ada bagian di mana film ini terasa terlalu ingin menyenangkan semua pihak. Tapi keberaniannya menempatkan tokoh-tokoh dari agama berbeda dalam satu ruang yang sama tetap jarang ditemui, bahkan bertahun-tahun setelahnya.
Cin(t)a
Film ini lebih sering dibahas sebagai kisah cinta lintas iman, padahal bagian paling menarik justru soal pertemanan dan pilihan. Ia menunjukkan bahwa percakapan soal keyakinan tidak selalu meledak jadi pertengkaran. Kadang justru jadi keheningan yang canggung, dan itu terasa jauh lebih jujur daripada argumen yang tersusun rapi.
Cinta Tapi Beda
Judulnya sudah jujur soal isinya. Fokusnya memang pasangan yang berbeda keyakinan, tapi yang menarik untuk dicermati adalah lingkaran pertemanan di sekitar mereka. Sahabat yang dulu netral tiba-tiba harus memilih sisi, dan pilihan itu tidak selalu jatuh ke tempat yang mereka duga sebelumnya.
Bagian tersulit saat menulis cerita seperti ini
- Takut menyinggung. Begitu penulis mulai menghitung risiko, tokohnya jadi kaku. Mereka bicara seperti narasumber seminar, bukan seperti sahabat yang sudah kenal bertahun-tahun.
- Godaan untuk menyeimbangkan. Keinginan memberi porsi sama ke semua agama sering menghasilkan dialog yang terasa seperti daftar. Hidup tidak berjalan seperti itu, dan penonton bisa merasakannya.
- Hilangnya hal-hal kecil. Persahabatan nyata dibangun dari hal receh: makan bareng, pinjam uang, salah paham soal jadwal. Film yang serius soal tema besar justru sering lupa hal-hal ini.
Menonton tanpa terjebak jadi debat
Ada godaan untuk memperlakukan setiap film bertema agama sebagai pernyataan politik. Menurut saya itu melelahkan dan sering tidak adil. Sebuah film lebih baik dinilai dari seberapa hidup tokoh-tokohnya, bukan dari apakah kesimpulannya cocok dengan pandangan kita.
Pertanyaan yang lebih berguna: apakah dua sahabat di film ini terasa seperti orang yang benar-benar saling mengenal? Kalau ya, perbedaan agama mereka akan terasa sebagai bagian dari hidup, bukan tempelan di atasnya. Kalau tidak, sebagus apa pun pesannya, film itu akan terasa seperti poster.
Satu lagi, jangan buru-buru menuntut film ini menyelesaikan persoalan yang bahkan di dunia nyata tidak selesai. Film yang jujur biasanya justru berhenti di tempat yang tidak nyaman: dua orang yang tetap berteman meski tidak pernah sepakat soal apa pun yang penting. Menurut saya itu bukan kegagalan. Itu justru gambaran yang paling dekat dengan kenyataan.
Kalau kamu punya sahabat yang beda keyakinan, mungkin kamu akan menemukan potret dirimu di salah satu film di atas. Kalau belum, film-film itu bisa jadi cara yang tenang untuk mulai membayangkan bagaimana rasanya hidup berdampingan tanpa harus selalu sepakat.