Jelajahi Film Mancanegara dan Indonesia
Iklan
Film Indo

Adakah Film Indonesia yang Diadaptasi dari Lagu Daerah?

Banyak orang mengira ada banyak film Indonesia yang lahir dari lagu daerah. Kenyataannya sedikit, dan biasanya bukan adaptasi utuh melainkan peminjaman suasana. Artikel ini membedah kenapa hal itu terjadi dan apa yang bisa dipelajari.

Adakah Film Indonesia yang Diadaptasi dari Lagu Daerah?

Kalau kamu mencari daftar film Indonesia yang diadaptasi dari lagu daerah, daftar itu akan habis lebih cepat dari yang kamu kira. Bukan karena sineas kita tidak mengenal lagu daerah. Justru lagu-lagu itu sangat akrab, dinyanyikan di sekolah, di acara keluarga, di panggung peringatan tujuh belasan. Persoalannya ada di tempat lain.

Lagu daerah dan film bekerja dengan cara yang berbeda. Yang satu menyentuh perasaan dalam tiga menit, yang satu menuntut kita mengikuti kehidupan seseorang selama dua jam. Menyatukan keduanya tidak sesederhana mengambil judul lagu lalu menulis skenario di bawahnya.

Lagu Daerah Memberi Suasana, Bukan Alur Cerita

Ini alasan paling mendasar, dan sering diabaikan. Sebuah lagu daerah memberimu rasa, bukan konflik. Ambil contoh Rasa Sayange dari Maluku. Dalam beberapa bait, kita langsung merasakan kehangatan, sedikit menggoda, penuh kebersamaan. Tapi siapa tokoh utamanya? Apa yang dia inginkan? Apa yang menghalanginya? Lagu itu tidak menjawabnya, dan memang tidak dimaksudkan untuk menjawabnya.

Iklan

Begitu juga Apuse dari Papua. Liriknya tentang perpisahan dengan kakek dan nenek, tentang kepergian. Ini benih cerita yang bagus. Tapi baru benih. Untuk menjadi film, seseorang harus membangun desa, masa, watak, dan pilihan yang tidak ada di dalam lagu itu.

Di titik itu, yang sebenarnya terjadi bukan lagi adaptasi. Yang terjadi adalah penciptaan cerita orisinal yang meminjam judul dan nuansa. Dan itu tidak salah. Hanya saja, jangan menyebutnya adaptasi kalau lagunya hanya jadi pintu masuk.

Yang Lebih Sering Terjadi adalah Kebalikannya

Di Indonesia, arusnya lebih sering mengalir dari film ke lagu, bukan dari lagu ke film. Lagu tema sebuah film bisa jauh lebih panjang umurnya daripada filmnya sendiri. Orang hafal lagunya, tapi belum pernah menonton filmnya. Badai Pasti Berlalu adalah contoh yang paling gampang diingat: lagunya hidup terus, dinyanyikan ulang dari generasi ke generasi, sementara filmnya tinggal jadi catatan sejarah bagi penonton tertentu.

Selain itu, ada pola yang jauh lebih umum dan sering disalahartikan sebagai adaptasi: lagu daerah dipakai sebagai musik pengiring. Sebuah adegan berlangsung di pasar tradisional, lalu masuklah tembang Jawa atau lagu Batak di latar belakang. Penonton merasa "ini Indonesia banget", padahal lagu itu cuma ditempel sebagai penanda lokasi. Tidak ada hubungan cerita, tidak ada makna yang digali dari liriknya.

Kalau kamu jeli, kamu bisa membedakan tiga hal yang sering dicampur jadi satu:

  • Adaptasi sungguhan. Lirik dan latar budaya lagu dijadikan kerangka cerita. Ini yang paling langka.
  • Peminjaman judul. Nama film sama dengan nama lagu, tapi ceritanya bebas. Kadang cuma strategi pemasaran.
  • Penggunaan sebagai ilustrasi. Lagu hanya jadi latar bunyi, tanpa peran dalam cerita.

Dua yang terakhir sah-sah saja. Tapi kalau kita mencarinya sebagai "film yang diadaptasi dari lagu daerah", kita akan terus kecewa, karena mayoritas yang kita temukan masuk kategori ketiga.

Kenapa Menyentuh Lagu Daerah Terasa Berisiko

Ada alasan emosional yang jarang dibicarakan sineas secara terbuka. Lagu daerah bukan milik satu orang. Ia milik banyak orang, di banyak kampung, dari banyak generasi. Penciptanya sering tidak tercatat, dan itu justru membuatnya terasa lebih sakral, bukan lebih bebas.

Ketika lagu seperti Ampar-Ampar Pisang atau Cublak-Cublak Suweng diubah menjadi cerita dengan tokoh yang punya masalah pribadi, ada rasa tidak nyaman yang muncul. Sebagian penonton merasa kampung mereka sedang diterjemahkan oleh orang luar. Sebagian lagi merasa lagu masa kecilnya dipakai untuk kepentingan komersial.

Risiko kedua adalah terjebak jadi film pariwisata. Lagu daerah sering hadir bersama gambar sawah, pantai, pasar, dan penari. Kalau tidak hati-hati, filmnya berhenti sebagai katalog keindahan daerah, dan ceritanya jadi tempelan. Penonton keluar dari bioskop mengingat pemandangannya, tapi tidak mengingat siapa yang mereka ikuti selama dua jam.

Risiko ketiga soal bahasa dan logat. Lagu daerah lahir dari bahasa tertentu, dan menerjemahkan nuansanya ke dalam dialog bukan pekerjaan mudah. Salah sedikit, terdengar seperti orang meniru, bukan orang berbicara.

Sebenarnya Tradisi Itu Sudah Ada, Cuma Bukan di Layar

Menarik untuk diingat bahwa di banyak daerah, lagu memang tidak pernah berdiri sendiri. Dalam randai di Minangkabau, nyanyian dan cerita berjalan bersamaan. Dalam ketoprak dan ludruk di Jawa, tembang menjadi bagian dari alur, bukan selingan. Di pertunjukan wayang, suluk membawa suasana hati tokoh pada titik tertentu dalam cerita.

Artinya, "adaptasi" itu sudah lama hidup di panggung. Yang belum banyak terjadi adalah memindahkannya ke bahasa film: memberi tokoh, konflik, dan perubahan nasib, lalu memakai lagu sebagai jembatan perasaan, bukan hiasan.

Kalau nanti ada yang mengerjakannya dengan benar, beberapa hal ini biasanya jadi pembeda:

  • Lagu dipakai sebagai sudut pandang, bukan sekadar latar. Misalnya satu bait dijadikan tema satu babak cerita.
  • Tokohnya punya keinginan yang jelas, terpisah dari lirik lagunya.
  • Musisi lokal dilibatkan sejak tahap penulisan, bukan dipanggil saat pascaproduksi.
  • Kalau ceritanya memang cuma terinspirasi jauh, ya katakan begitu. Tidak perlu mengklaim lebih.

Jadi jawaban jujurnya begini: film Indonesia yang benar-benar diadaptasi dari lagu daerah masih bisa dihitung dengan jari, dan yang ada pun sering lebih dekat ke peminjaman suasana ketimbang penafsiran cerita. Ini bukan kegagalan sineas semata. Ini soal bentuk, soal rasa memiliki, dan soal keberanian menafsir. Lagu daerah sudah menyimpan cerita yang utuh, tapi cerita itu masih menunggu orang yang mau menerjemahkannya tanpa merusak apa yang membuatnya hidup.

Iklan

Artikel Lainnya